Senin, 08 Agustus 2016

Kampanye Penyelamatan Situs Melalui Pentas Musik

Kondisi aktual yang dihadapi Balai Arkeologi dewasa ini adalah bagaimana mewujudkan hasil-hasil penelitian dan pengembangan sumberdaya arkeologi di daerah menjadi berkualitas, berdayasaing, berdayaguna, dan berorientasi pada pembangunan karakter bangsa. Visi ini yang mendorong Balai Arkeologi mengembangkan kemitraan dan prioritas kegiatan yang apresiatif, sambil berperan sebagai katalisator dan fasilitator dalam pemanfaatan situs secara berkelanjutan.
Ada tiga isu atau agenda strategis yang dianggap relevan dengan usaha mewujudkan visi tersebut, yaitu; (1) Penguatan identitas budaya lokal melalui kegiatan pendokumentasian, pengkajian dan publikasi hasil-hasil riset; (2) Peningkatan apresiasi publik terhadap kawasan situs, dalam hal ini situs purba Lembah Walanae sebagai identitas budaya lokal sekaligus warisan peradaban nusantara; (3) Peningkatan partisipasi masyarakat, khususnya guru dan pelajar sekolah dalam kegiatan ekspose maupun kampanye pengembangan dan pemanfaatan kawasan situs Walanae, dan situs-situs lainnya di Sulawesi Selatan.

Sabtu, 30 Juli 2016

Alat Musik Tertua Ditemukan

Minggu, 27 Mei 2012 10:15 WIB | 5.164 Views
Jakarta (ANTARA News) - Sejumlah peneliti telah mengidentifikasi dua buah suling yang diyakini sebagai alat musik tertua di dunia. Suling itu dibuat dari tulang burung dan gading gajah. Kedua suling yang ditemukan di sebuah gua Geissenkloesterle, Jerman,  dan menjadi bukti awal pendudukan Eropa oleh manusia modern, Homo Sapiens.
Prof. Nick Conard dari Tuebingen University mengatakan "Geissenkloesterle merupakan salah satu gua yang memiliki ornamen, kesenian, mitos, dan alat musik". Seperti dikutip BBC, para ilmuwan menggunakan radiokarbon untuk mengetahui usia kedua suling itu, antara 42.000 hingga 43.000 tahun.
"Temuan ini sesuai dengan hipotesis kami beberapa tahun yang lalu, bahwa Sungai Danube adalah kunci dari pergerakan manusia dan teknologi di Eropa tengah sekitar 40.000-45.000 tahun yang lalu," katanya.
Menurut para ahli, alat musik digunakan sebagai sarana rekreasi dan ritual agama. Beberapa peneliti mengemukakan bahwa musik bisa jadi merupakan kelebihan perilaku manusia bila dibandingkan dengan Homo Neanderthals, yang telah punah di kebanyakan wilayah di Eropa 30.000 tahun yang lalu.
Musik menjadi sarana sosial Homo Sapiens untuk memperluas teritori mereka.
Para peneliti mengatakan suling dari Geissenkloesterle menunjukkan manusia modern memasuki wilayah Danube Atas sebelum fase iklim dingin ekstrim sekitar 39.000-40.000 tahun lalu.
"Manusia modern berada di Eropa tengah sekurang-kurangnya 2.000-3.000 tahun sebelum perubahan iklim. Ketika itu gunung es muncul dari lapisan es di Atlantik utara dan temperatur turun drastis," kata Prof. Tom Higham dari Oxford Univesity.
(nta)
Penerjemah: Natisha Andarningtyas
Editor: Aditia Maruli
Link:
http://www.antaranews.com/berita/312703/alat-musik-tertua-ditemukan

Senin, 13 Juni 2016

ARKEOLOGI UNTUK SEMUA

Pada acara Workshop Perencanaan Strategis Pengembangan dan Pemanfaatan Hasil Penelitian Arkeologi (14-15 Maret 2016), Kepala Balar Sulawesi Selatan – Drs. M. Irfan Mahmud, M.Si memperkenalkan istilah Arkeologi untuk Semua dalam materi presentasinya. Perspektif ini sesungguhnya diadaptasi dari tema “Kota untuk Semua” (City for All) yang dikampanyekan oleh PBB (UN Habitat) dalam Perayaan Hari Habitat Tahun 2004 (International Habitat Day 2004). Dalam pengertian ini, visi “untuk semua” menunjukkan adanya keinginan untuk mengubah paradigma arkeologi kontemporer.
Perspektif "Arkeologi untuk Semua" (Archeology for All) mencakup beberapa pengertian. Pertama, arkeologi yang berkepentingan secara ideologis dalam rangka meneguhkan identitas budaya; secara akademis mempperkaya khasanah ilmu pengetahuan, dan secara ekonomis sebagai katalisator kesejahteraan masyarakat; Kedua, konsep itu juga mencakup penelitian arkeologi yang berorientasi pada pemanfaatan, partisipasi, dan keberlanjutan program. Ketiga, konsep tersebut merupakan proyeksi atas trend penelitian arkeologi di masa depan. Hal ini sejalan dengan visi BALAR, yakni Terwujudnya penelitian dan pengembangan sumber daya arkeologi di daerah yang berkualitas, berdayasaing, dan berdayaguna yang berorientasi pada prioritas pembangunan karakter bangsa.

Minggu, 08 Mei 2016

MENGGALI POTENSI CAGAR BUDAYA SITUS WALANAE (3)


Asal Muasal Sungai Walennae di Soppeng Sulawesi Selatan
(Cerita dalam Bahasa Bugis)
Assalenna Salo’ Walennae
Riolo, riseddi bulu engka seddi makkalabiningeng tuo, yaro atuo-tuongenna madece-decemua. iyarosipangngulungenge engka ambo’na, indo’na, na engkato ana’ makkundrainna seddi, asenna walennae. Esso-essona ye lapong ambo massappa aju tunung ri ale’e nappa natiwi ri kotae nabalui. Yaro indo’na jama-jaman ess-essona mannasumi. Na ye lapong ana’ iwalennae rippe ja’sipa’na na maella-kella toppa. De’namitta ye sipangngulungenge mancajini tau peddi aregga wadding dipau atuo-tuongenna pede maperrini kasi. Wettunna kasi pede’ maperri atuo-tuongenna, ye lapong ambo laoni massompe rikamponna taue, bara’ koengkani matu lisu engkamu dalle napoleang na mancaji madeceng-decengmu atuo-tuongenna matu, de’na namapeddi banssana makkukue. Siponganna lapong ambo lao somppe, lapong indo’na kasi sambei massappa aju tunung rialee. Sipongnna kasi atuo-tuonganna pede mapeddini, ye lapong indo’ mattajeni bara’ ana’na walennae pede madeceng-decengni bara’ lo’ni dua-duangngi indo’na massappa aju tunung, ne’ banna pede’ mancaji maella-kellai na pede’ makuttu to, de’na gaga jama-jamang lo’ najama.
Sitaunni laona lapong ambo, deppa na enggka karebanna. Engkana siddi wettu na engka kareba pole romai kede ye lapong ambo mateni riassomperenna ri kamponna taue. Nangkalinganna kareba majae, ye lapong indo pede messibabuani pa de’ni gaga lakkainna kasi. Yaro pede massi babuana pa an’na I walennae pede de’naelo riappoang. Engkana seddi wettu, ye lapong indo mappikkirini lo’i Ssalai ana makkundrainna calalena ko’matindro ni ritangngabennie.
Engkani wettu nateje-tajengge, laoniro kasi’ lapong indo de’nappau-pau riana’na nasalai bolae. Jokkaniro nalettu riwirinna tebbingge na me’ddui karodo na matei. Riele’e moto’ni ro ana’na, laoni rikamara’na indo’na naitani ranjanna indo’na na degagatau-tau naita. Iyatoro walennae nasappai indo’na, na de’naruntui. Nasappatoni aga ce’dde bolae ne’ de’ to naruntui. Kuniro nappammula terri nasaba de’na naitai indo’na, nasese’toni alena nasaba talliwa-liwani ri indo’na. kuniro nalari tongeng lettu ri ale’e na ta’terri-terri tongeng ne’ deto naruntui indo’na. lettu makku’kue yaro laleng nalaloie mancaji salo’ni, iyanaro salo’e makku’kue ritella “salo’ walennae”.

Senin, 18 April 2016

MENGGALI POTENSI CAGAR BUDAYA SITUS WALANAE (2)


Melacak Jejak Gajah Purba di Pulau Sulawesi
Selasa 02 Feb 2016, 18:10 WIB
Muhammad Nur Abdurrahman – detikNews

Makassar - Gajah di Indonesia identik dengan Pulau Sumatera. Bagi orang Sulawesi, mungkin tidak banyak yang mengira, spesies Gajah purba juga pernah hidup di Sulawesi, sekitar 2,6 juta tahun lalu.
Arkeolog Paleontolog Gert Van de Bergh, dari Universitas Wollongong, Australia, yang dijumpai detikcom di simposiun The Archaeology of Sulawesi-an Update, yang digelar Balai Arkeologi Makassar dan Austalian National University di hotel Singgasana, Makassar, Selasa (2/2/2016), menyebutkan bahwa Tim Arkeologi Universitas Utrecht yang bekerjasama dengan Pusat Survei Geologi kementerian ESDM yang melakukan penggalian di situs Walanae, Kab. Soppeng, Sulawesi Selatan, menemukan fosil gajah Stegoloxodon Celebensis dan fosil Gajah Stegodon Sompoensis. Gajah Stegoloxodon diyakini hanya ada di Sulawesi, sementara Stegodon memiliki kemiripan dengan Gajah Asia.

Minggu, 17 April 2016

MENGGALI POTENSI KAWASAN SITUS WALANAE


Tim BPSMP Sangiran Melakukan Kajian Potensi Cagar Budaya Situs Paleolitik Lembah Walanae
di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan

Situs Paleolitik Lembah Walanae terletak disepanjang aliran Sungai Walanae yang berhulu di daerah Bone barat mengalir menuju ke utara di daerah Soppeng dan Wajo yang bermuara di pantai timur Sulawesi Selatan di Teluk Bone. Lokasi ini terletak sekitar 180 km di sebelah tenggara Kota Makassar, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor melalui jalur darat.
Pada beberapa lokasi di lembah Walanae mengandung tinggalan Arkeologi dan Paleontropologi yang terdapat pada lapisan-lapisan tanah purba. Temuan arkeologi yang telah ditemukan di daerah ini adalah alat-alat batu yang terdiri dari kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam, pahat genggam, berbagai jenis alat serpih. Temuan paleontropogi berupa fosil berbagai jenis binatang vertebrata darat, diantara yang paling terkenal adalah gajah kerdil purba endemik Sulawesi (Stegodon sompoensis/Stegodon celebensis) dan babi rusa endemic (Celebochoerus heekereni). Umur lapisan purba diketahui berusia miosen hingga plestosen (25 juta hingga 100.000 tahun lalu).

Kamis, 17 Maret 2016

MEMBANGUN VISI STRATEGIS 2025

Wacana kerarkeologian dipandang masih berpusar di dalam ruang-ruang kuliah, di sekitar 10 perguruan tinggi di Indonesia. Studi arkeologi hanya diminati oleh kalangan tertentu, terutama para peneliti dan arkeolog. Dan, hasil-hasil penelitiannya lebih banyak tersimpan di dalam rak-rak perpustakaan, dan laboratorium lembaga penelitian arkeologi. Aspek pengembangan dan pemanfaatan hasil penelitian arkeologi masih sangat terbatas, dan polanya berulang dari waktu ke waktu. Hal ini membuat para peneliti, pengajar, juga mahasiswa merasa pesimis menatap masa depan arkeologi di Indonesia.
Begitu pengakuan salah seorang peserta Workshop Perencanaan Strategis Balai Arkeologi Sulawesi Selatan. Acara ini berlangsung di kantor BALAR Sulsel, jalan Pajjaiyang Sudiang. Sebanyak 40 peserta yang terdiri dari unsur pemerintah daerah propinsi dan kota Makassar, balai cagar budaya, dinas pendidikan, dinas pariwisata, universitas (Unhas, Unhalu), guru sekolah (SD, SMP, SMA), aktivis LSM dan mahasiwa, mengikuti acara ini dari pagi hingga jelang maghrib. Peserta sangat antusias mendiskusikan dan merumuskan skenario masa depan penelitian arkeologi.
Workshop dipandu oleh dua fasilitator dari Lembaga Riset dan Konsultan Sulisa Matra Bangsa. Selama dua hari penuh, fasilitator memandu rangkaian proses ‘scenario building’, hingga peserta yang merupakan stake-holder BALAR Sulsel menghasilkan rumusan visi kolektif beserta program strategis 2025. Rangkaian diskusi kelompok terfokus (FGD) berlangsung empat sesi. Setiap tahapan FGD menggunakan Tools 4-D Cycle yang diambil dari metode Appreciative Inquiry for Change Management (Sarah Lewis dkk, 2008). Prinsip utama dalam Appreciative Inquiry adalah berpikir positif, bersikap optimis, dan memulai diskusi dari pengalaman terbaik (best practices) dalam mengapresiasi persoalan masa lalu, masa kini, dan masa depan.