Selasa, 15 November 2016

SITUS DAN RITUS KAMPUNG KOTA

Kota Makassar memiliki banyak arsip sejarah yang tersimpan di dalam museum, badan arsip, dan perpustakan, bahkan taman-taman baca di 30 lokasi/kelurahan. Pemerintah Kota Makassar setidaknya mengelola tiga perpustakaan, yakni Perpustakaan Khusus Balai Kota, Perpustakaan Umum Kota, dan Perpustakaan Keliling (2 unit). Selain itu, di kota Makassar terdapat Perpustaakan Wilayah, Badan Arsip Nasional, Balai Pelestarian Sejarah dan Arkeologi, serta sejumlah perpustakaan yang dikelola perguruan tinggi negeri dan swasta. Kelembagaan arsip dan olah data ini sudah lebih dari cukup menyediakan sumber data dan referensi sejarah Sulawes Selatan/Sulawesi.
Menurut para ahli, di antaranya yang sering dikutip oleh Alwy Rachman, akademisi Universitas Hasanuddin bahwa sejarah memiliki saudara kembar, yakni literasi. Bila sejarah mencatat peristiwa fakta dan data, maka literasi mengisahkan suatu peristiwa secara naratif. Bila diandaikan peristiwa sejarah mengukuhkan tokoh hero atau pahlawan dalam suatu periode,, maka literasi mengawetkan nilai-nilai tradisi kepahlawanan dari generasi ke generasi melalui kisah dari mulut ke telinga. Itulah sebabnya, literasi disimpan dan direproduksi oleh rakyat kebanyakan..
Pendekatan literasi sejarah dapat mengungkap berbagai kisah, bahkan mitos budaya yang masih dituturkan maupun dipraktikkan oleh suatu komunitas. Tidak terkecuali masyarakat urban di dalam kampung-kota. Sebagaimana para peneliti telah mencatat bahwa di kota Makassar masih teridentifikasi sejumlah situs dan ritus budaya, di antaranya tradisi Paddeko, Maudu/Maulidan, Ziarah Makam/, Nyekar, serta beberapa praktik seni tradisi seperti Kondobuleng, Tanjidor, Gambus, Gaddong-gaddong, termasuk ritus kelahiran (aqiqah) dengan tradisi Barasanji. Menariknya, situs dan ritus ini berlangsung dalam kampung-loroing kota, suatu ruang hidup yang dewasa ini kian menyempit tetapi padat akibat tekanan budaya perkotaan.
Kampung kota adalah peristilahan yang digunakan oleh para urbanis atau pegiat budaya perkotaan untuk menegaskan suatu ruang hidup yang informal, semacam lokus kehidupan sosial-budaya (sub-culture) masyarakat di perkotaan yang berciri tradisional, etnisitas, kekerabatan, informalitas sekaligus majemuk. Pada umumnya mereka masih menuturkan dan atau mempraktikkan tradisi budaya etnis, kepercayaan maupun agamanya dalam momen tertentu. Hal ini yang mendasari pengertian situs dan ritus.
Tidak banyak referensi yang menjabarkan pengertian situs (site), tetapi penggunaannya identik atau merujuk pada tempat bersejarah atau temuan arkeologis. Bahkan pengertian situs dewasa ini menjadi moda publikasi informasi global, misalnya situs pada kata website. Demikian halnya ritus, yang sehari-hari identik dengan kebiasaan suatu kelompok masyarakat yang diungkapkan dalam bentuk upacara budaya/agama (ritual). 
Dalam pandangan umum, pun dalam wacana ilmiah, ritus dimengerti sebagai suatu tipe tindakan atau pun perilaku yang secara sadar dan baku merujuk pada suatu aturan khusus, misalnya ziarah, yang membedakannya dengan perilaku sehari-hari. Praktik ritus atau ritual dikenal oleh anggota budayanya sebagai sesuatu yang klasik, normatif, dan esensial tentang relasi individu dengan diri sendiri, masyarakat, dunia, dan Ilahi.
(https://diosdias.wordpress.com/2007/02/20/ritus-mitos-simbol-dan-teologi-liturgi/)
Menurut Ronald L. Grimes dalam deskripsi buku Negotiating Rites (2014) (http://oxrit.twohornedbull.ca/volumes/negotiating-rites/), ritus atau ritual bersifat embeddedness, sudah tertanam di dalam sistim sosial suatu masyarakat, yang berperan dalam proses negosiasi terhadap konflik dalam masyarakat maupun antar-masyarakat. Contoh yang relevan dalam hal ini adalah ritual panas-gandong untuk perdamaian dalam konflik Ambon beberapa tahun lalu.
Studi perihal situs maupun ritus ini semakin berarti dalam konteks kampung-kota. Keduanya merupakan satu kesatuan sistim budaya masyarakat yang telah tertanam (embended) ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Ibarat sejarah dan literasi, situs dan ritus bersaudara kembar. Banyak pengetahuan dan kearifan yang bisa menjelaskan asal-usul suatu kampung atau pun identitas komunitas dalam kota, termasuk di dalamnya tokoh teladan dan pegiat seni yang hidup di loorng-lorong kota. Sesuatu yang seringkali diabaikan dalam perencanaan kebijakan pembangunan kota maupun pengembangan seni budaya (MN07).

Minggu, 13 November 2016

Penghargaan APEX 2016

ANWAR AKIB, ARKEOLOG KOMUNITAS
Balai Arkeologi (Balar) Sulawesi Selatan memberikan penghargaan kepada tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah daerah yang mengabdikan profesinya bagi pelstarian warisan budaya berupa cagar budaya dalam even APEX 2016 di kabupaten Soppeng. Salah seorang di antara tiga penerima penghargaan APEX 2016 adalah Anwar Akib. Laki-laki duda berusia 68 tahun yang biasa disapa pak Anwar berdomisili di Cabbenge kabupaten Soppeng. Lebih dari separuh usianya diabdikan pada pelestarian situs, khususnya di kawasan Lembah Walennae,.
Meskipun tidak sempat mengecap pendidikan tinggi, namun di kalangan arkeolog, pak Anwar sangat populer sebagai "ahlinya para ahli arkeolog" di Sulawesi Selatan. Penyebutan itu diungkapkan oleh seorang arkeolog-antropolog Unhas, DR. Iwan Sumnatri dalam suatu diskusi informasl. Sebagian keahliannya itu diperoleh secara otodidak, yakni meneliti, merawat dan menjaga situs-situs purbakala secara intensif di wilayahnya. Tidak lah berlebihan bila menyebut pak Anwar seorang profesional, bukan hanya tahu sebaran dan jenis benda cagar budaya di kabupaten Soppeng, tetapi juga ahli dalam mengekskavasi dan menentukan riwayat sebuah situs secara akurat.
Keahlian dan pengabdian pak Anwar boleh dibilang langka. Beliau adalah seorang 'arkeolog komunitas', yaitu orang desa/kampung yang mengabdi kepada masa depan peradaban masyarakatnya. Sungguh suatu cara hidup dan bekerja profesional, yang pantas diteladani oleh kaum muda, khususnya mahasiswa jurusan arkeologi.. Atas dasar itu,pula harian Kompas edisi 13 Oktober 2016 menulis profil beliau. Berikut ini kami kutip tulisan wartawan harian Kompas, Reny Sri Ayu yang berjudul Merawat Situs, Menjaga Peradaban. 
Sosok Anwar Akib dalam Harian Kompas, 13 Oktober 2016
Anwar Akib(68) bisa saja menjalani kehidupan yang mapan sebagai pedagang tembakau. Namun, selama 43 tahun ini, ia justru memilih menjadi juru pelihara situs bersejarah Soppeng, Sulawesi Selatan, dengan penghasilan pas-pasan. Komitmen itu didorong rasa cintanya pada benda-benda peninggalan sejarah.
Anwar bukan sembarang juru pelihara alias jupel situs biasa. Untuk urusan menjaga situs, pegawai Balai Purbakala (kini bernama Balai Pelestarian Cagar Budaya) di Soppeng, Sulawesi Selatan, itu tidak pernah setengah hati. Ia kerap mengeluarkan uang pribadi untuk merawat benda-benda kepurbakalaan. Padahal, gajinya tidak seberapa.
Ia juga pernah nekat meminjam uang Rp 3,5 juta pada 1986 untuk membeli balok, semen, seng, dan kaca. Bahan-bahan itu ia gunakan untuk membangun pondok sederhana tempat penyimpanan sejumlah artefak dan benda-benda bekas ekskavasi. "Waktu itu saya sering mendampingi peneliti dan arkeolog yang datang ke Cabbenge. Rumah saya selalu menjadi tempat singgah dan bermalam. Di kolong rumah saya, benda dan artefak sisa ekskavasi ditumpuk," kata bapak dua anak itu saat ditemui akhir September. "Akhirnya saya memutuskan untuk menyimpan benda-benda itu di sebuah bangunan agar bisa dilihat siapa saja. Sebagian saya bawa ke museum di Villa Yuliana di Watansoppeng, ibu kota Soppeng," tutur Anwar yang tidak menghitung berapa uang pribadinya yang keluar untuk menyelamatkan benda-benda itu.
Pondok sederhana yang dibangun Anwar di jalan poros Soppeng-Bone itu belakangan menjadi cikal bakal berdirinya Museum Prasejarah Calio di Cabbenge. Bangunan itu dipugar menjadi permanen pada 1990. Tanah yang menjadi lokasi museum adalah milik warga. Anwar dengan sabar membujuk dan memberikan pengertian kepada pemilik tanah agar mau menukar tanahnya dengan tanah milik Balai Purbakala. Lewat jalan berliku, Anwar berhasil meyakinkan si pemilik tanah. Ia mau menukar tanahnya dengan tanah milik Balai Purbakala yang letaknya jauh di dalam hutan. Anwar mau bersusah payah seperti itu karena ia menganggap dirinya bukan sekadar penjaga atau perawat benda kepurbakalaan, melainkan juga penjaga warisan bagi ilmu pengetahuan.
Dikejar Warga
Di Soppeng, puluhan situs menyebar di antara rumah dan kebun warga. Ini menjadi pekerjaan berat bagi jupel dan peneliti lapangan. Mereka kerap berhadapan dengan pemilik lahan yang sebagian besar tidak hirau arti penting peninggalan sejarah. Padahal, Soppeng menjadi salah satu lokasi penelitian arkeologi penting dunia karena sebagian warisan sejarah di wilayah ini berusia hingga 2,5 juta tahun silam. Anwar bersama peneliti pernah dikejar warga kampung yang membawa berbagai benda tajam. Mereka marah saat mengetahui ia berupaya menggagalkan rencana pemasangan sebuah menara komunikasi milik salah satu operator telepon seluler di sebuah situs penting. Ia beberapa kali dipanggil ke DPRD dan pemerintah setempat terkait peristiwa itu. Pada akhirnya, ia bisa meyakinkan banyak orang agar membatalkan pembangunan menara tersebut.
Anwar beberapa kali pasang badan di hadapan pemilik lahan saat peneliti dan arkeolog tak mendapat akses ke lokasi penelitian. "Saya tak pernah pakai kekerasan. Saya selalu bilang, apa yang dijaga dan semua yang diteliti bukan untuk kepentingan saya pribadi atau para peneliti, melainkan kepentingan bersama untuk anak cucu. Saya yakinkan tinggalan sejarah yang ada di lahan mereka penting untuk ilmu pengetahuan. Alhamdulillah, semua berakhir baik," katanya.
Sejak 1968
Tamat dari Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) di Parepare, ia langsung pulang kampung karena situasi yang tak menentu pasca peristiwa 30 September 1965. Lalu, tahun 1968, ia membantu penelitian Paleolitik oleh arkeolog Robert van Heekeren di Cabbenge. Anwar keluar masuk hutan menemani peneliti itu, tapi belum berpikir bahwa kelak bakal bekerja menjadi jupel. Ketajaman ingatan dan penguasaan hampir setiap jengkal wilayah membuat Anwar seperti peta hidup yang menuntun peneliti pada jejak-jejak purba di Cabbenge. Walau tampak sepele, peran Anwar sebagai penunjuk jalan menjadi sangat berarti bagi para peneliti dan arkeolog.
"Kebanyakan peneliti saat itu berasal dari luar Soppeng dan sebagian orang asing. Saat Heekeren datang, tak ada orang kampung yang mau terlibat dan sekadar menemani. Lalu, saya memberanikan diri. Saat saya temui dan melihat peta lokasi yang ditunjukkan, saya langsung menyatakan bersedia. Lokasi-lokasi yang dicari adalah tempat saya bermain dan mencari mangga saat kecil," katanya. Seusai membantu Heekeren, Anwar terus terlibat dalam penelitian-penelitian selanjutnya yang melibatkan pakar dari berbagai disiplin ilmu, seperti ahli biologi dan geologi. Kelak, hasil penelitian mereka menjadi catatan penting terkuaknya awal peradaban di Soppeng. Penelitian itu juga menemukan sejumlah fosil babi purba, gajah kerdil, kura-kura raksasa, dan sejumlah artefak dan fosil penting lain.
Hal itu membuat Soppeng menjadi kawasan yang nyaris tak pernah sepi dari kegiatan penelitian. Dari semua penelitian itu, boleh dikata, hampir semuanya melibatkan Anwar. Bahkan, ia selalu diajak serta dalam penelitian dan praktik mahasiswa arkeologi.
Berada dalam tim peneliti, Anwar memanfaatkannya untuk menimba ilmu arkeologi. Baginya, penelitian adalah sekolah lapangan yang membuatnya kian memahami sejarah dan arkeologi. Apalagi, sejak tahun 1973, ia kemudian menjadi jupel benda-benda peninggalan bersejarah di Soppeng. Banyak peneliti dan mahasiswa yang akhirnya menjadikan lelaki itu seperti guru, bapak, dan teman diskusi ataupun debat. Komitmen Anwar itu berjalan baik karena dukungan keluarga. Istrinya, Halawiah, sabar mengurus para peneliti yang kerap bermarkas di rumahnya. Dekat dengan para peneliti mendorong Anwar turut membantu penelitian. Ketika mendapati jalan yang sulit di sejumlah situs, Anwar mencari akal. Dia mendekati kelompok-kelompok petani hingga menjadi pengurus Kelompok Tani dan Nelayan Andalan, Soppeng. Di setiap program pembangunan jalan tani, Anwar selalu menyelip sejumlah ruas jalan berdekatan dengan situs.
"Akhirnya banyak jalan sekitar situs yang kini mudah ditempuh, bahkan dengan kendaraan. Ini memudahkan peneliti dan orang-orang yang mau mengunjungi situs. Kalau tidak dengan cara seperti ini, sulit membangun akses ke situs. Tak ada anggaran khusus untuk itu," katanya. Dedikasinya menjaga dan merawat situs tak pernah berhenti meski dia tak menjadi kaya dari pekerjaan itu. Bagi dia, kekayaannya adalah ilmu dan teman-teman yang dia dapatkan dari aktivitas penelitian. Hingga di masa pensiun, Anwar masih menjaga tinggalan sejarah di Soppeng dan tetap mendampingi para peneliti. Tak berlebihan jika dalam Archaeological Partnerships Expose yang digelar Balai Arkeologi Sulsel di Soppeng, akhir September, Anwar diberi penghargaan sebagai tokoh yang berperan penting dalam pelestarian dan memberikan perhatian khusus pada cagar budaya. Penghargaan yang sepadan untuk dedikasinya.

ANWAR AKIB
Lahir: Soppeng, 27 Maret 1948
Istri: Halawiah (Almarhumah)
Anak: Yusraeni dan Hairil
Pendidikan:
SR Salaonro
SMP Negeri 2 Parepare
SMEA Muhammadiyah Parepare

Penghargaan:Tokoh yang memberikan perhatian khusus bagi cagar budaya dari Balai Arkeologi Sulawesi Selatan 2016.

(Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Oktober 2016, di halaman 16 dengan judul
"Merawat Situs, Menjaga Peradaban").

Sumber:
http://cdn.assets.print.kompas.com/baca/sosok/2016/10/13/Merawat-Situs-Menjaga-Peradaban

Sabtu, 01 Oktober 2016

Kreasi Pelajar Soppeng dalam APEX 2016

Balai Arekologi - Balar Sulsel menggelar Pagelaran Kemitraan Arkeologis di lapangan Gasis Watansoppeng, 26-29 September 2016. Selama empat hari empat malam, seluruh rangkaian acara diikuti sekitar 300 siswa-siswi pelajar dan guru sekolah menengah atas dari kabupaten Soppeng, Bone, Bulukumba, Selayar, Masamba, Walenrang, dan Tana Toraja. Dihadiri oleh kepala Puslitnas, perwakilan Balar Maluku, Medan, Jawa Barat, Pemda kabupaten Maros, dan Ikatan Arkeolog Indonesia, acara dibuka oleh wakil Bupati, dan ditutup oleh Bupati Soppeng.
APEX merupakan pengembangan dari even Kemah Arkeologi, yang selama 10 tahun terakhir dilaksanakan oleh Balar Sulsel di 10 kabupaten. Sedikit berbeda, APEX menekankan aspek kemitraan, partisipasi dan output kegiatan kreatif. Salah satunya adalah mendokumentasi dan memproduksi kreativitas pelajar dalam mengapresiasi situs sejarah dan ritus budaya di wilayahnya melalui cipta lagu dan pentas musik. Even ini diikuti 16 dari 21 sekolah menengah atas peserta APEX. Perlombaan ini menghasilkan 3 pementas terbaik dari aspek autentitas dan relevansi tema, kesesuaian lagu dan musik, serta teknik vokal.
Pada umumnya peserta mengemas lagu dan pementasannya secara sungguh-sungguh, pertanda perhatian siswa dan guru sangat antusias. Dari enam belas sekolah peserta lomba, hanya 3 yang kurang relevan dengan tema Peduli Situs Lembah Walanae dan situs lainnya di Sulawesi Selatan. Lirik-lirik lagu dinyanyikan dalam bahasa daerah dan bahasa Indonesia secara grup maupun solo. Genre musik yang diminati adalah balada dan pop - ada sedikit unsur dangdut dan rap - dengan mengandalkan peralatan musik perkusi gitar akustik, ukulele, gendang, biola, dan suling.
Even tahunan Balar Sulsel kali ini terasa ada nilai tambah dengan tumbuhnya kreativitas siswa bersama guru dalam mengapresiasi situs dan ritus budaya daerah. Situs Lembah Walanae dalam nyanyian menjadi kata kunci yang menjelaskan banyak hal tentang peradaban masa lalu dan masa kini masyarakat Soppeng dan sekitarnya. Dalam hal kemampuan, siswa-siswi daerah cukup baik dalam mengemas lagu dan melantunkannya secata grup dan solo. Kesenian, dalam hal ini seni musik terbukti dapat menjadi media kampanye yang efektif dan cocok dengan dunia pop kaum muda. Kreativitas mereka dapat menjadi alternatif dalam pengembangan dan pemanfaatan situs-situs arkeologi di Sulawesi Selatan.
Dari sisi dokumentasi, karya siswa ini akan menjadi satu album lagu yang bertajuk "Safe Walanae", dan dikemas secara audio-visual. Safe Walanae mencakup kampanye untuk konservasi, preservasi, dan revitalisasi kearifan budaya lokal. Sesuatu yang jarang atau mungkin belum dilakukan oleh Balai-balai Arkeologi dan instansi yang terkait dengan perlindungan situs prubakala. Sejauh ini hanya dalam bentuk buku dan pameran foto sebagai media kampanyenya. Melalui media audio-visual, kreativitas siswa bisa diakses oleh semua kalangan melalui internet agar pesan-pesan dalam lagu dapat diapresiasi secara utuh. .
Berikut ini adalah enam lirik lagu yang dinyanyikan oleh siswa-siswa dari enam sekolah menengah atas di kabupaten Soppeng. Tiga di antaranya adalah pemenang lomba.

1.  Penghuni Alam (SMAN Liliriaja)

2. Walennae Salo Lebbi (SMAN 1 Watansoppeng)
3. DINDAE (SMAN Marioriwawo)
4. Walennae ri Cabbenge (SMAN Marioriawa)
5. Alebbirenna Walennae (MA Pergis Ganra)
6. Rupa-rupanna Soppeng (SMKN 2 Watansoppeng)

   *by dg situju

Senin, 08 Agustus 2016

Kampanye Penyelamatan Situs Melalui Pentas Musik

Kondisi aktual yang dihadapi Balai Arkeologi dewasa ini adalah bagaimana mewujudkan hasil-hasil penelitian dan pengembangan sumberdaya arkeologi di daerah menjadi berkualitas, berdayasaing, berdayaguna, dan berorientasi pada pembangunan karakter bangsa. Visi ini yang mendorong Balai Arkeologi mengembangkan kemitraan dan prioritas kegiatan yang apresiatif, sambil berperan sebagai katalisator dan fasilitator dalam pemanfaatan situs secara berkelanjutan.
Ada tiga isu atau agenda strategis yang dianggap relevan dengan usaha mewujudkan visi tersebut, yaitu; (1) Penguatan identitas budaya lokal melalui kegiatan pendokumentasian, pengkajian dan publikasi hasil-hasil riset; (2) Peningkatan apresiasi publik terhadap kawasan situs, dalam hal ini situs purba Lembah Walanae sebagai identitas budaya lokal sekaligus warisan peradaban nusantara; (3) Peningkatan partisipasi masyarakat, khususnya guru dan pelajar sekolah dalam kegiatan ekspose maupun kampanye pengembangan dan pemanfaatan kawasan situs Walanae, dan situs-situs lainnya di Sulawesi Selatan.

Sabtu, 30 Juli 2016

Alat Musik Tertua Ditemukan

Minggu, 27 Mei 2012 10:15 WIB | 5.164 Views
Jakarta (ANTARA News) - Sejumlah peneliti telah mengidentifikasi dua buah suling yang diyakini sebagai alat musik tertua di dunia. Suling itu dibuat dari tulang burung dan gading gajah. Kedua suling yang ditemukan di sebuah gua Geissenkloesterle, Jerman,  dan menjadi bukti awal pendudukan Eropa oleh manusia modern, Homo Sapiens.
Prof. Nick Conard dari Tuebingen University mengatakan "Geissenkloesterle merupakan salah satu gua yang memiliki ornamen, kesenian, mitos, dan alat musik". Seperti dikutip BBC, para ilmuwan menggunakan radiokarbon untuk mengetahui usia kedua suling itu, antara 42.000 hingga 43.000 tahun.
"Temuan ini sesuai dengan hipotesis kami beberapa tahun yang lalu, bahwa Sungai Danube adalah kunci dari pergerakan manusia dan teknologi di Eropa tengah sekitar 40.000-45.000 tahun yang lalu," katanya.
Menurut para ahli, alat musik digunakan sebagai sarana rekreasi dan ritual agama. Beberapa peneliti mengemukakan bahwa musik bisa jadi merupakan kelebihan perilaku manusia bila dibandingkan dengan Homo Neanderthals, yang telah punah di kebanyakan wilayah di Eropa 30.000 tahun yang lalu.
Musik menjadi sarana sosial Homo Sapiens untuk memperluas teritori mereka.
Para peneliti mengatakan suling dari Geissenkloesterle menunjukkan manusia modern memasuki wilayah Danube Atas sebelum fase iklim dingin ekstrim sekitar 39.000-40.000 tahun lalu.
"Manusia modern berada di Eropa tengah sekurang-kurangnya 2.000-3.000 tahun sebelum perubahan iklim. Ketika itu gunung es muncul dari lapisan es di Atlantik utara dan temperatur turun drastis," kata Prof. Tom Higham dari Oxford Univesity.
(nta)
Penerjemah: Natisha Andarningtyas
Editor: Aditia Maruli
Link:
http://www.antaranews.com/berita/312703/alat-musik-tertua-ditemukan

Senin, 13 Juni 2016

ARKEOLOGI UNTUK SEMUA

Pada acara Workshop Perencanaan Strategis Pengembangan dan Pemanfaatan Hasil Penelitian Arkeologi (14-15 Maret 2016), Kepala Balar Sulawesi Selatan – Drs. M. Irfan Mahmud, M.Si memperkenalkan istilah Arkeologi untuk Semua dalam materi presentasinya. Perspektif ini sesungguhnya diadaptasi dari tema “Kota untuk Semua” (City for All) yang dikampanyekan oleh PBB (UN Habitat) dalam Perayaan Hari Habitat Tahun 2004 (International Habitat Day 2004). Dalam pengertian ini, visi “untuk semua” menunjukkan adanya keinginan untuk mengubah paradigma arkeologi kontemporer.
Perspektif "Arkeologi untuk Semua" (Archeology for All) mencakup beberapa pengertian. Pertama, arkeologi yang berkepentingan secara ideologis dalam rangka meneguhkan identitas budaya; secara akademis mempperkaya khasanah ilmu pengetahuan, dan secara ekonomis sebagai katalisator kesejahteraan masyarakat; Kedua, konsep itu juga mencakup penelitian arkeologi yang berorientasi pada pemanfaatan, partisipasi, dan keberlanjutan program. Ketiga, konsep tersebut merupakan proyeksi atas trend penelitian arkeologi di masa depan. Hal ini sejalan dengan visi BALAR, yakni Terwujudnya penelitian dan pengembangan sumber daya arkeologi di daerah yang berkualitas, berdayasaing, dan berdayaguna yang berorientasi pada prioritas pembangunan karakter bangsa.

Minggu, 08 Mei 2016

MENGGALI POTENSI CAGAR BUDAYA SITUS WALANAE (3)


Asal Muasal Sungai Walennae di Soppeng Sulawesi Selatan
(Cerita dalam Bahasa Bugis)
Assalenna Salo’ Walennae
Riolo, riseddi bulu engka seddi makkalabiningeng tuo, yaro atuo-tuongenna madece-decemua. iyarosipangngulungenge engka ambo’na, indo’na, na engkato ana’ makkundrainna seddi, asenna walennae. Esso-essona ye lapong ambo massappa aju tunung ri ale’e nappa natiwi ri kotae nabalui. Yaro indo’na jama-jaman ess-essona mannasumi. Na ye lapong ana’ iwalennae rippe ja’sipa’na na maella-kella toppa. De’namitta ye sipangngulungenge mancajini tau peddi aregga wadding dipau atuo-tuongenna pede maperrini kasi. Wettunna kasi pede’ maperri atuo-tuongenna, ye lapong ambo laoni massompe rikamponna taue, bara’ koengkani matu lisu engkamu dalle napoleang na mancaji madeceng-decengmu atuo-tuongenna matu, de’na namapeddi banssana makkukue. Siponganna lapong ambo lao somppe, lapong indo’na kasi sambei massappa aju tunung rialee. Sipongnna kasi atuo-tuonganna pede mapeddini, ye lapong indo’ mattajeni bara’ ana’na walennae pede madeceng-decengni bara’ lo’ni dua-duangngi indo’na massappa aju tunung, ne’ banna pede’ mancaji maella-kellai na pede’ makuttu to, de’na gaga jama-jamang lo’ najama.
Sitaunni laona lapong ambo, deppa na enggka karebanna. Engkana siddi wettu na engka kareba pole romai kede ye lapong ambo mateni riassomperenna ri kamponna taue. Nangkalinganna kareba majae, ye lapong indo pede messibabuani pa de’ni gaga lakkainna kasi. Yaro pede massi babuana pa an’na I walennae pede de’naelo riappoang. Engkana seddi wettu, ye lapong indo mappikkirini lo’i Ssalai ana makkundrainna calalena ko’matindro ni ritangngabennie.
Engkani wettu nateje-tajengge, laoniro kasi’ lapong indo de’nappau-pau riana’na nasalai bolae. Jokkaniro nalettu riwirinna tebbingge na me’ddui karodo na matei. Riele’e moto’ni ro ana’na, laoni rikamara’na indo’na naitani ranjanna indo’na na degagatau-tau naita. Iyatoro walennae nasappai indo’na, na de’naruntui. Nasappatoni aga ce’dde bolae ne’ de’ to naruntui. Kuniro nappammula terri nasaba de’na naitai indo’na, nasese’toni alena nasaba talliwa-liwani ri indo’na. kuniro nalari tongeng lettu ri ale’e na ta’terri-terri tongeng ne’ deto naruntui indo’na. lettu makku’kue yaro laleng nalaloie mancaji salo’ni, iyanaro salo’e makku’kue ritella “salo’ walennae”.