Senin, 20 November 2017

Arkeologi di Mata KidZamaNow

Istilah generasi Zaman Old digunakan oleh anak-anak muda millenial untuk menyebut para arkeolog yang menggeluti peradaban manusia masa lampau. Generasi millenial, yang kini lebih populer disebut KidZamanNow alias “anak jaman medsos” adalah anak-anak muda masa kini kelahiran tahun 2000-an. Mereka tumbuh dan berkembang pada masa pesatnya penggunaan teknologi digital, internet. Sejak kecil terbiasa dengan bunyi, bentuk, dan radiasi elektromagnetik yang dipancarkan mesin digital. Umumnya, pelajar sekolah menengah, yang ‘melek teknologi’ (techno-savvy) dibanding orang tua mereka yang lebih ‘melek huruf’ (techno-literacy). Anak-anak muda millenial ini kemudian menjadi konsumen aktif atau pengguna utama gadget (gawai), aplikasi, dan fitur-fitur pada laptop dan smartphone (android).
Sesungguhnya, generasi zaman old maupun zaman now, sama-sama mengalami ketergantungan pada produk teknologi digital. Bedanya, anak-anak muda ‘zaman now’ di kota maupun di pedesaan, jauh lebih intens dan lebih cekatan menggunakan berbagai fitur dan aplikasi android tinimbang orang-orang tua mereka. Di sisi lain, generasi zaman old memiliki pengalaman dan literasi yang memadai untuk mengapresiasi dan mengolah berbagai informasi yang disediakan teknologi digital. Hal inilah yang mendasari kebanyakan orang-orang tua memandang penting sekali membiasakan ‘kid zaman now’ berinteraksi dan mengalami langsung kehidupan sehari-hari. Misalnya, menguji informasi dalam diskusi kelompok, atau pun mengekspresikan pengalaman dalam bentuk tulisan maupun pertunjukan kreatif.
Berkaitan dengan hal tersebut, penulis mengapresiasi kegiatan Balai Arkeologi (Balar) Sulawesi Selatan yang melibatkan siswa-siswi sekolah menengah atas dalam Archeological Partnership Expose (APEX). Setiap tahun, Balar Sulsel memobilisasi siswa-siswi untuk mengambil bagian dalam berbagai even APEX. Tahun 2017 adalah tahun ke 10 yang diselenggrakan Balar Sulsel bekerja sama dengan pemerintah daerah. Dan, even serupa APEX ini semakin terasa signifikansinya bagi pendidikan karakter generasi muda. Rangkaian kegiatan APEX seperti workshop, bedah buku, kunjungan situs, menulis kreatif, fotografi hingga pertunjukan seni, semakin eventual.
Rangkaian kegiatan APEX telah melampaui misi Balar itu sendiri yang hendak menjadi pusat informasi dan pengembangan arkeologi di wilayah timur Indonesia. Balar Sulsel hari ini sedang mengembangkan literasi warisan budaya tangible maupun intangible bagi generasi muda milenial; menanamkan kesadaran berbahasa, sejarah, budaya-tradisi, kerjasama, juga nilai-nilai kompetitif bagi siswa-siswi sekolah menengah atas.
Literasi dan Warisan Budaya
Mengutip rumusan National Intitute for Literacy (NIFL), Literasi adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Pengembangan dari pengertian ini adalah proses generasi mudah mewarisi nilai-nilai budaya sejak dini, yaitu mengingat, mendengarkan, membaca, menyaksikan, mengungkapkan, dan melakukan perubahan perilaku sesuai dengan tuntutan zaman now.
Warisan Budaya, sebagaimana yang dirumuskan oleh Unesco adalah benda  (tangible)  dan atribut tak benda  (intangible)  yang merupakan jati diri masyarakat atau bangsa yang diwariskan oleh generasi masa lalu, dan dilestarikan kepada generasi masa kini dan yang akan datang. Warisan budaya berupa benda (tangible ) dapat diindera dan diukur (artefak, peralatan, bangunan maupun berupa lokasi atau kawasan). Warisan budaya tak benda (intangible) hanya dapat diapresiasi dengan akal-budi dan rasa-merasa (pengetahuan tradisional, desain industri, tradisi lisan, komposisi bunyi, gerak, dan motif).
Indonesia adalah negara adikuasa (superpower) di bidang warisan budaya. Pernyataan ini tidak terbantahkan. Misalnya, ada sekitar 82.000 desa/kelurahan dengan berbagai sebutan yang khas seperti wanua, gampong, dusun, kuwu, negeri, nagari, banjar, lembang, jorong. Begitu pun sebutan bagi seorang kepala desa sangat unik seperti matoa, gallarang di Sulsel, Ayahanda di Gorontalo, Sangadi di Bolaang Mongondow, Geuchik di Aceh, Raja di Maluku, Kepala Kampung di Papua, Petinggi di Sumatera, Lurah di Jawa, dan lain-lain.
Dari Sabang hingga Merauku, dari Miangas hingga Rote, luas wilayah NKRI adalah 1.905.000 km persegi dengan populasi 257.912.349 jiwa (BPS, 2016). Dari sini terbentang sekitar 1.340 suku bangsa/etnis dari 300 kelompok suku; sekitar 1.211 bahasa daerah yang tersebar di 17.504 pulau besar dan kecil.  Di Sulawesi Selatan, terdapat 11 suku bangsa, dan 9 bahasa yang tersebar di 3.813 desa/kelurahan dan 295 pulau (BPS, 2015). Dengan kekayaan dan keanekaragaman warisan budaya itu semua, sudah benar bila Unesco menyebut Indonesia adalah ‘superpower’ budaya-tradisi. Nyaris tidak ada negara di dunia ini yang sekaya dan seaneka ragam Indonesia.
Pertanyaannya, apa yang diapresiasi anak-anak zaman now dari ‘harta karun’ warisan budaya itu?
Belajar, Bermain, dan Berkompetisi
Geberasi KidZamaNow jelas memiliki kesempatan yang nyaris tanpa batas untuk menjangkau dan mengupdate situasi kebudayaan masa kini. Setiap hari, setiap menit, tinggal click, maka mesin google menyediakan informasi dan mengupdate peristiwa kebudayaan di seluruh dunia. Seluas itulah medan pembelajaran anak-anak muda masa kini, dan semudah itulah mereka menentukan pilihannya. Soalnya kemudian, seberapa lama mereka menggunakan internet untuk mengakses informasi kebudayaan? Faktanya, tidak lah begitu menggembirakan.
Sejauh pengetahuan penulis dari pengamatan dan percakapan dengan siswa sekolah menengah atas dan mahasiwa (usia 15 – 24 tahun), rata-rata waktu yang digunakan mengakses media sosial adalah 2 – 5 jam. Mereka memanfaatkan aplikasi Whatsapp, Line, Instagram, Facebook, dan intens menonton video You Tube, terutama melalui mesin android. Namun, informasi yang paling menarik diakses dan dibagikan belakangan ini? Sebagian besar adalah informasi tentang keagamaan, hiburan budaya pop, perisriwa heboh, di samping tugas-tugas sekolah dan tentu saja game. Kecenderungan seperti ini tentu sangat menantang para orang tua, juga guru dan pegiat pendidikan. Apatah lagi bagi para arekolog dan sejarawan, yang mulai merasa semakin tua (old) di jaman yang cenderung semakin a-historis ini.
Dari ilustrasi di atas, penulis semakin menyadari arti pentingnya even APEX Balar Sulsel. Di balik itu, para arkeolog terus berupaya menegaskan eksistensinya, sambil menjangkau sebanyak mungkin siswa-siswi dan anak-anak muda milenial terlibat dalam kegiatan belajar, bermain, dan berkompetisi di ajang APEX Balar Sulsel#

Jumat, 17 November 2017

Literasi Warisan Budaya APEX Balar 2017

Dari Alun-alun Pantai Seruni Bantaeng, Balai Arkeologi Sulawesi Selatan (Balar Sulsel) dengan bangga menggelar Archeological Partenership and Expose (APEX 2017). Ini adalah pagelaran dan kemitraan yang kedua Balar Sulsel dengan pemerintah daerah yang bertajuk APEX sebagai pengembangan dari Kemah Arkeologi sejak tahun 2006. 
Apa yang signifikan, dan karena itu bermakna dari APEX di Bantaeng? Bagi Tajuddin (69), pensiunan guru Bahasa Indonesia SDN 5 Bantaeng, kegiatan APEX merupakan ajang membangun kekompakan. “Seringkali perlombaan antarsekolah berujung ricuh”. Namun, menurut pak Taju yang saat ini kembali bertani, memandang pertunjukan seni APEX lebih mengedepankan budaya toleransi. Sejauh disaksikannya, ada kesungguhan anak-anak muda mengekspose kemampuannya bernyanyi, memainkan peralatan seni, menari, berpuisi, mengusung tema-tema warisan budaya di atas panggung. Penonton tidak tergoda untuk bertindak liar. Menariknya lagi, banyak ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak kampung yang menyaksikan pertunjukan hingga usai.
Kesan lain dari seorang ibu rumah tangga, Almi (45) yang singgah sepulang belanja di pasar malam. Perempuan paruh baya ini mengaku tertarik untuk menyaksikan penampilan siswa dari SMA Negeri 1 Selayar. Menurutnya, pertunjukan sendratari yang berjudul Daeng Camummu yang dipentaskan siswa SMA Negeri 1 Selayar sudah bagus, tapi terlalu singkat. Berbeda sekali dengan apa yang pernah disaksikannya di pulau Jampea kepulauan Selayar. Namun, menurut guru pendamping siswa SMAN 1 Selayar, penyingkatan dilakukan untuk memenuhi jangka waktu lima menit yang ditentukan panitia APEX. Penyesuaian dari sisi peralatan juga dilakukan, misalnya dari peralatan bedil yang digunakan Tuan untuk menembak Bangau Putih (tokoh Daeng Cammumu) menjadi panah yang digunakan seorang Pemuda Desa. Penyesuaian ini didasarkan pada konteks pemain dan penonton yang mayoritas pelajar.
Kreativitas seperti yang dilakukan siswa SMAN 1 Selayar, juga terasa pada pertunjukan Tari Pagellu oleh siswa-siswi SMA Negeri 6 Toraja Utara. Tarian itu dimainkan oleh 3 penari siswi, 3 penari siswa dan 2 orang penabuh gendang secara apik, kompak dan indah sesuai dengan pakem tari Pagellu. Sentuhan kreativitas tampak pada penggunaan topeng pengawal dan orang tua, serta tameng senjata tanduk kerbau yang dikenakan penari siswa. Unsur kreatif yang paling menonjol adalah nada teriakan yang biasanya khas tarian masyarakat Toraja, yang bernada tinggi. Pada malam itu, nada teriakan diturunkan, sehingga mirip sebuah sapaan akrab dalam pergaulan remaja; ‘hai...hai-hai...”.          
Dari aspek tematik, menurut seorang juri lomba cipta dan pentas musik, apresiasi siswa-siswi kian terasa kuat dibanding APEX 2016 di Watansoppeng. Hanya 2 dari 10 penampil yang dinilai kurang mengapresiasi tema warisan budaya atau pun situs sejarah-arkeologi. Penampilan SMA Negeri 1 Watansoppeng dan SMA Negeri 2 Watansoppeng menunjukkan kemampuan siswa mengolah lirik bertema situs sekaligus memainkan peralatan musik perkusi, tiup, petik, keyboard dalam suatu komposisi. Demikian halnya, penampilan siswa-siswi SMA Negeri 5 Bantaeng, SMA Negeri 1 Selayar, dan SMA Negeri 1 Gowa. Meskipun masih mengandalkan peralatan musik petik (gitar), komposisi lagunya tidak lah mengecewakan. Misalnya, lagu yang disajikan SMAN 1 Gowa memasukkan unsur irama ‘rap’ sebagai daya tarik penampilannya.
Dari ajang perlombaan Menulis Kreatif (Literasi Warisan Budaya), beberapa penulis remaja dinilai cukup berbakat. Meskipun tidak banyak, yakni 2-3 dari 12 peserta lomba. Kendala teknis seperti waktu pembekalan yang terbatas akibat kepadatan agenda APEX, sebagian siswa masih menulis berdasarkan ragam tulisan atau laporan ilmiah. Tuntutan untuk mengedepankan aspek informasi lapang (situs) juga mempengaruhi siswa, sehingga abai terhadap aspek imajinasi yang merupakan intik dari tulisan kreatif semacam features maupun essai. Tulisan siswa SMA Negeri 2 Bantaeng dan SMA Negeri 1 Selayar adalah 2 dari 12 naskah yang dinilai memenuhi karakteristik tulisan kreatif atau pun karangan bebas (creative-writing). Pada dua tulisan tersebut, unsur deskriptif-informatif (laporan field trip) dikemas dengan gaya penulisan (features), gaya bahasa (kiasan, metafor), dan kronologi perjalanan (caper – catatan perjalanan) yang menarik.
Dari sisi kreativitas, uraian singkat di atas dapat menjelaskan makna yang signifikan dari APEX 2017 di Bantaeng dibandingkan sebelumnya. Meskipun jumlah sekolah yang hadir hanya separuh dari peserta APEX 2016, apresiasi dan kualitas pertunjukan siswa tetap terjaga. 

Senin, 13 November 2017

SOSOK ARKEOLOG BALAR SULSEL


Drs. Budianto Hakim, arkeolog dan peneliti warisan budaya Indonesia di Makassar adalah pribadi yang 'flamboyan''. Saya mengenal pak Budi, begitu panggilannya, dalam dua even pagelaran kemitraan  Balai Arkeologi Sulawesi Selatan (Balar Sulsel) dengan pemerintah kabupaten, yakni APEX 2016 di Watansoppeng dan APEX 2017 di Bantaeng. Penampilan 'nyantai', mencerminkan pengalamannya yang matang di lapangan. Sekira 20 tahun sudah dia bekerja sebagai peneliti di Balai Arkeologi (Balar) Sulsel.
Hari itu, 15 November 2017 dalam diskusi Bedah Buku Butta Toa di Cafe Garasiku Bantaeng, alumni jurusan Arkeologi Unhas (1984/5) ini dengan bangga memperlihatkan profilnya dalam rubrik Sosok di Harian Kompas, edisi 12 November 2017. Setahuku, dia adalah sosok arkeolog Sulsel ketiga, setelah arkeolog Unhas Drs. Iwan Sumantri, Msi. dan arkoelog komunitas Anwa Akib yang menarik perhatian wartawan Kompas, Reny Sri Ayu dan T. Sularto. Tentu saja, bukan semata karena kesederhaaan hidup seorang arkeolog. Lebih dari itu adalah pengabdian yang sungguh pada pelestarian dan perlindungan warisan budaya bangsa Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.
Berikut ini adalah sosok pak Budi versi Reny Sri Ayu wartawan Harian Nasional Kompas yang berjudul: Menggali Masa Lalu Menjawab Masa Depan. Sumber dikutip secara utuh dari https://kompas.id/baca/bebas-akses/2017/11/14/menggali-masa-lalu-menjawab-masa-depan/:

Penemuan lukisan tangan di langit-langit goa karts berusia 40.000 tahun di Leang (Goa) Timpuseng, Maros, Sulawesi Selatan, tahun 2014, sontak mengubah pandangan dunia tentang peradaban, terutama soal lukisan prasejarah. Lukisan tangan tertua bukan terdapat di Spanyol, melainkan di Indonesia. Sebelumnya, selama 100 tahun Eropa mengklaim sebagai wilayah yang mengenal seni cadas purba tertua dengan lukisan tangan berusia 38.000 tahun di Spanyol. Indonesia tentu patut berbangga, terlebih temuan lukisan ini termasuk salah satu dari 10 penelitian terbaik dunia tahun 2014. Bersama kebiasaan masyarakat Tana Toraja, sejak beberapa tahun lalu, lukisan cadas ini didaftarkan ke Organisasi Pendidikan, Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) guna memperoleh pengakuan sebagai world memory heritage.
Di balik temuan yang sempat menghebohkan jagat arkeologi dan sejarah dunia ini, ada Budianto Hakim (53), peneliti senior Balai Arkeologi Sulsel, yang punya peran penting. Budi yang pertama kali mencetuskan ide mendata usia lukisan tangan tersebut.
”Saat itu penelitian yang kami lakukan di Maros, bekerja sama dengan peneliti dan arkeolog Australia, sebenarnya fokus pada pencarian manusia purba. Penelitian pada lukisan tangan hanya untuk mencari jejak DNA yang mungkin tertinggal. Saya memberi ide untuk melakukan dating pada lukisan tersebut karena selama ini umumnya usia lukisan cap tangan hanya ditentukan berdasarkan hasil penggalian,” kata Budi.
Temuan spektakuler ini tak membuat Budi dan peneliti lain puas. Mereka kembali ke tujuan utama mencari jejak manusia purba. Namun, belum lagi manusia purba ditemukan, tahun 2016 mereka menemukan perhiasan berusia 30.000 tahun. Lagi-lagi ini jadi temuan penting karena menjadi perhiasan manusia purba tertua yang pernah ditemukan di Indonesia hingga saat ini.
Lukisan tangan maupun perhiasan, hanya sedikit dari sejumlah penelitian sejarah dan arkeologi penting di mana Budi punya peran strategis. Budi, misalnya, menjadi penghubung antara peneliti luar dan dalam negeri yang melakukan penelitian terutama di sebagian wilayah Sulawesi. Pada sebagian besar penelitian, Budi juga menentukan lokasi ekskavasi. Acap kali, dia pula yang turut melakukan pendekatan pada warga yang lahan atau wilayahnya menjadi lokasi penelitian.
Temuan penting
Perkenalan bapak dua anak ini pada sejarah dan arkeologi dimulai saat masih duduk di bangku sekolah dasar di Parepare. Saat itu, kedua orangtuanya yang guru sering membawa bahan bacaan ke rumah. Budi selalu tertarik membaca buku-buku sejarah. Budi yang memiliki jiwa petualang melihat dalam sejarah dan arkeologi, ada kisah nyata dan petualangan yang berpadu.
Setamat SMA, pada 1984, Budi memilih Jurusan Arkeologi di Universitas Hasanuddin. Keterlibatannya pada berbagai penelitian arkeologi sudah dimulai sejak masih kuliah. Pertama kali ikut penelitian, Budi membantu David Bulbeck yang menyusun disertasi tentang ”Sejarah dan Prasejarah Sulsel”. Selepas penelitian ini, sejumlah peneliti lainnya mengikutkan Budi dalam penelitian atau ekskavasi mereka.
Pada 1998-2000, Budi juga terlibat dalam Oxis Project, sebuah penelitian tentang kerajaan tua di Sulsel yang dilakukan di wilayah Luwu, Bone, Soppeng, dan Wajo. Penelitian ini tidak hanya menguak ihwal kerajaan tua, tetapi juga lokasi awal kerajaan.
Pada Kedatuan Luwu di Sulsel, misalnya, penelitian mengungkap fakta baru bahwa lokasi awal Kerajaan Luwu adalah Malangke, Luwu Utara. Temuan ini seketika mengubah pendapat yang melekat selama ini bahwa lokasi kerajaan adalah di Kota Palopo. Begitu pula pada kerajaan Bone, Soppeng, dan Wajo.
Penelitian demi penelitian maupun ekskavasi membawa Budi berkenalan dengan Adam Brumm, arkeolog dari Universitas Griffith, Australia. Perkenalan pada tahun 2005 kemudian berlanjut dengan memulai penelitian bersama pada 2011. Tujuannya, mencari manusia purba Sulawesi. Penelitian mereka menemukan lukisan tangan tertua dan perhiasan tertua.
Budi optimistis pencarian manusia purba akan berakhir dengan kabar baik. ”Berdasarkan jejak arkeologi dan geologi di wilayah ini, Sulawesi merupakan tempat transit sekaligus tujuan migrasi. Jika selama ini ada anggapan manusia purba di Jawa tak bermigrasi ke Sulawesi, sebenarnya tidak seperti itu. Tapi, itu akan terjawab jelas jika manusia purba Sulawesi kami temukan,” katanya.
Menurut Budi, hal ini sekaligus akan membalikkan fakta yang selama ini menyebut bahwa Indonesia adalah bangsa peniru. ”Bisa jadi jika kami menemukan manusia purba itu, Indonesia juga akan berbangga bahwa bangsa ini punya peradaban yang jauh lebih tua dibandingkan sejumlah negara lain,” katanya.
Kehilangan momen
Berkeliling dari satu lokasi penelitian dan ekskavasi ke lokasi lainnya, berpindah satu goa ke goa lainnya, diakui Budi membuatnya acap kali kehilangan banyak momen penting dalam perjalanan hidupnya. Pernah selama enam tahun ia hidup berpisah dengan keluarganya, saat Budi bertugas di Jakarta dan berkeliling mengikuti penelitian. Sementara istrinya yang bekerja di salah satu bank swasta di Makassar juga tak bisa pindah. Dia mengaku banyak kehilangan momen penting dalam fase pertumbuhan kedua anaknya.
Bagi Budi, penelitian arkeologi dan berbagai penggalian yang dilakukannya, betapapun acap dipandang sebelah mata, punya nilai penting. Setiap lapisan tanah yang dia gali dengan hati-hati adalah kotak hitam peradaban. Lapisan tanah ini menyimpan fakta dari masa ke masa tentang peradaban bangsa ini. Menguak masa lalu, juga memberi gambaran seperti apa leluhur kita.
”Kami menemukan banyak fakta yang menunjukkan bahwa pendahulu dan peradaban kita justru lebih maju dibandingkan dengan banyak negara lain. Setidaknya temuan seperti ini bisa mengangkat derajat bangsa,” ujarnya.
Menurut Budi, menggali masa lalu adalah salah satu cara menjawab masa depan dan menjelaskan banyak hal. ”Ingat bagaimana bangsa Aria memusuhi Polandia hanya karena temuan satu keping gerabah berlambang Nazi,” tambahnya. 
Itulah sebabnya, Budi belum lelah untuk terus melakukan penelitian dan menghabiskan banyak waktu dalam hidupnya, berpindah dari satu goa ke goa lain. Dia bahkan bertekad terus mencari hingga menemukan manusia purba Sulawesi yang jejaknya sudah mulai tampak.

Selasa, 15 November 2016

SITUS DAN RITUS KAMPUNG KOTA

Kota Makassar memiliki banyak arsip sejarah yang tersimpan di dalam museum, badan arsip, dan perpustakan, bahkan taman-taman baca di 30 lokasi/kelurahan. Pemerintah Kota Makassar setidaknya mengelola tiga perpustakaan, yakni Perpustakaan Khusus Balai Kota, Perpustakaan Umum Kota, dan Perpustakaan Keliling (2 unit). Selain itu, di kota Makassar terdapat Perpustaakan Wilayah, Badan Arsip Nasional, Balai Pelestarian Sejarah dan Arkeologi, serta sejumlah perpustakaan yang dikelola perguruan tinggi negeri dan swasta. Kelembagaan arsip dan olah data ini sudah lebih dari cukup menyediakan sumber data dan referensi sejarah Sulawes Selatan/Sulawesi.
Menurut para ahli, di antaranya yang sering dikutip oleh Alwy Rachman, akademisi Universitas Hasanuddin bahwa sejarah memiliki saudara kembar, yakni literasi. Bila sejarah mencatat peristiwa fakta dan data, maka literasi mengisahkan suatu peristiwa secara naratif. Bila diandaikan peristiwa sejarah mengukuhkan tokoh hero atau pahlawan dalam suatu periode,, maka literasi mengawetkan nilai-nilai tradisi kepahlawanan dari generasi ke generasi melalui kisah dari mulut ke telinga. Itulah sebabnya, literasi disimpan dan direproduksi oleh rakyat kebanyakan..
Pendekatan literasi sejarah dapat mengungkap berbagai kisah, bahkan mitos budaya yang masih dituturkan maupun dipraktikkan oleh suatu komunitas. Tidak terkecuali masyarakat urban di dalam kampung-kota. Sebagaimana para peneliti telah mencatat bahwa di kota Makassar masih teridentifikasi sejumlah situs dan ritus budaya, di antaranya tradisi Paddeko, Maudu/Maulidan, Ziarah Makam/, Nyekar, serta beberapa praktik seni tradisi seperti Kondobuleng, Tanjidor, Gambus, Gaddong-gaddong, termasuk ritus kelahiran (aqiqah) dengan tradisi Barasanji. Menariknya, situs dan ritus ini berlangsung dalam kampung-loroing kota, suatu ruang hidup yang dewasa ini kian menyempit tetapi padat akibat tekanan budaya perkotaan.
Kampung kota adalah peristilahan yang digunakan oleh para urbanis atau pegiat budaya perkotaan untuk menegaskan suatu ruang hidup yang informal, semacam lokus kehidupan sosial-budaya (sub-culture) masyarakat di perkotaan yang berciri tradisional, etnisitas, kekerabatan, informalitas sekaligus majemuk. Pada umumnya mereka masih menuturkan dan atau mempraktikkan tradisi budaya etnis, kepercayaan maupun agamanya dalam momen tertentu. Hal ini yang mendasari pengertian situs dan ritus.
Tidak banyak referensi yang menjabarkan pengertian situs (site), tetapi penggunaannya identik atau merujuk pada tempat bersejarah atau temuan arkeologis. Bahkan pengertian situs dewasa ini menjadi moda publikasi informasi global, misalnya situs pada kata website. Demikian halnya ritus, yang sehari-hari identik dengan kebiasaan suatu kelompok masyarakat yang diungkapkan dalam bentuk upacara budaya/agama (ritual). 
Dalam pandangan umum, pun dalam wacana ilmiah, ritus dimengerti sebagai suatu tipe tindakan atau pun perilaku yang secara sadar dan baku merujuk pada suatu aturan khusus, misalnya ziarah, yang membedakannya dengan perilaku sehari-hari. Praktik ritus atau ritual dikenal oleh anggota budayanya sebagai sesuatu yang klasik, normatif, dan esensial tentang relasi individu dengan diri sendiri, masyarakat, dunia, dan Ilahi.
(https://diosdias.wordpress.com/2007/02/20/ritus-mitos-simbol-dan-teologi-liturgi/)
Menurut Ronald L. Grimes dalam deskripsi buku Negotiating Rites (2014) (http://oxrit.twohornedbull.ca/volumes/negotiating-rites/), ritus atau ritual bersifat embeddedness, sudah tertanam di dalam sistim sosial suatu masyarakat, yang berperan dalam proses negosiasi terhadap konflik dalam masyarakat maupun antar-masyarakat. Contoh yang relevan dalam hal ini adalah ritual panas-gandong untuk perdamaian dalam konflik Ambon beberapa tahun lalu.
Studi perihal situs maupun ritus ini semakin berarti dalam konteks kampung-kota. Keduanya merupakan satu kesatuan sistim budaya masyarakat yang telah tertanam (embended) ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Ibarat sejarah dan literasi, situs dan ritus bersaudara kembar. Banyak pengetahuan dan kearifan yang bisa menjelaskan asal-usul suatu kampung atau pun identitas komunitas dalam kota, termasuk di dalamnya tokoh teladan dan pegiat seni yang hidup di loorng-lorong kota. Sesuatu yang seringkali diabaikan dalam perencanaan kebijakan pembangunan kota maupun pengembangan seni budaya (MN07).

Minggu, 13 November 2016

Penghargaan APEX 2016

ANWAR AKIB, ARKEOLOG KOMUNITAS
Balai Arkeologi (Balar) Sulawesi Selatan memberikan penghargaan kepada tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah daerah yang mengabdikan profesinya bagi pelstarian warisan budaya berupa cagar budaya dalam even APEX 2016 di kabupaten Soppeng. Salah seorang di antara tiga penerima penghargaan APEX 2016 adalah Anwar Akib. Laki-laki duda berusia 68 tahun yang biasa disapa pak Anwar berdomisili di Cabbenge kabupaten Soppeng. Lebih dari separuh usianya diabdikan pada pelestarian situs, khususnya di kawasan Lembah Walennae,.
Meskipun tidak sempat mengecap pendidikan tinggi, namun di kalangan arkeolog, pak Anwar sangat populer sebagai "ahlinya para ahli arkeolog" di Sulawesi Selatan. Penyebutan itu diungkapkan oleh seorang arkeolog-antropolog Unhas, DR. Iwan Sumnatri dalam suatu diskusi informasl. Sebagian keahliannya itu diperoleh secara otodidak, yakni meneliti, merawat dan menjaga situs-situs purbakala secara intensif di wilayahnya. Tidak lah berlebihan bila menyebut pak Anwar seorang profesional, bukan hanya tahu sebaran dan jenis benda cagar budaya di kabupaten Soppeng, tetapi juga ahli dalam mengekskavasi dan menentukan riwayat sebuah situs secara akurat.
Keahlian dan pengabdian pak Anwar boleh dibilang langka. Beliau adalah seorang 'arkeolog komunitas', yaitu orang desa/kampung yang mengabdi kepada masa depan peradaban masyarakatnya. Sungguh suatu cara hidup dan bekerja profesional, yang pantas diteladani oleh kaum muda, khususnya mahasiswa jurusan arkeologi.. Atas dasar itu,pula harian Kompas edisi 13 Oktober 2016 menulis profil beliau. Berikut ini kami kutip tulisan wartawan harian Kompas, Reny Sri Ayu yang berjudul Merawat Situs, Menjaga Peradaban. 
Sosok Anwar Akib dalam Harian Kompas, 13 Oktober 2016
Anwar Akib(68) bisa saja menjalani kehidupan yang mapan sebagai pedagang tembakau. Namun, selama 43 tahun ini, ia justru memilih menjadi juru pelihara situs bersejarah Soppeng, Sulawesi Selatan, dengan penghasilan pas-pasan. Komitmen itu didorong rasa cintanya pada benda-benda peninggalan sejarah.
Anwar bukan sembarang juru pelihara alias jupel situs biasa. Untuk urusan menjaga situs, pegawai Balai Purbakala (kini bernama Balai Pelestarian Cagar Budaya) di Soppeng, Sulawesi Selatan, itu tidak pernah setengah hati. Ia kerap mengeluarkan uang pribadi untuk merawat benda-benda kepurbakalaan. Padahal, gajinya tidak seberapa.
Ia juga pernah nekat meminjam uang Rp 3,5 juta pada 1986 untuk membeli balok, semen, seng, dan kaca. Bahan-bahan itu ia gunakan untuk membangun pondok sederhana tempat penyimpanan sejumlah artefak dan benda-benda bekas ekskavasi. "Waktu itu saya sering mendampingi peneliti dan arkeolog yang datang ke Cabbenge. Rumah saya selalu menjadi tempat singgah dan bermalam. Di kolong rumah saya, benda dan artefak sisa ekskavasi ditumpuk," kata bapak dua anak itu saat ditemui akhir September. "Akhirnya saya memutuskan untuk menyimpan benda-benda itu di sebuah bangunan agar bisa dilihat siapa saja. Sebagian saya bawa ke museum di Villa Yuliana di Watansoppeng, ibu kota Soppeng," tutur Anwar yang tidak menghitung berapa uang pribadinya yang keluar untuk menyelamatkan benda-benda itu.
Pondok sederhana yang dibangun Anwar di jalan poros Soppeng-Bone itu belakangan menjadi cikal bakal berdirinya Museum Prasejarah Calio di Cabbenge. Bangunan itu dipugar menjadi permanen pada 1990. Tanah yang menjadi lokasi museum adalah milik warga. Anwar dengan sabar membujuk dan memberikan pengertian kepada pemilik tanah agar mau menukar tanahnya dengan tanah milik Balai Purbakala. Lewat jalan berliku, Anwar berhasil meyakinkan si pemilik tanah. Ia mau menukar tanahnya dengan tanah milik Balai Purbakala yang letaknya jauh di dalam hutan. Anwar mau bersusah payah seperti itu karena ia menganggap dirinya bukan sekadar penjaga atau perawat benda kepurbakalaan, melainkan juga penjaga warisan bagi ilmu pengetahuan.
Dikejar Warga
Di Soppeng, puluhan situs menyebar di antara rumah dan kebun warga. Ini menjadi pekerjaan berat bagi jupel dan peneliti lapangan. Mereka kerap berhadapan dengan pemilik lahan yang sebagian besar tidak hirau arti penting peninggalan sejarah. Padahal, Soppeng menjadi salah satu lokasi penelitian arkeologi penting dunia karena sebagian warisan sejarah di wilayah ini berusia hingga 2,5 juta tahun silam. Anwar bersama peneliti pernah dikejar warga kampung yang membawa berbagai benda tajam. Mereka marah saat mengetahui ia berupaya menggagalkan rencana pemasangan sebuah menara komunikasi milik salah satu operator telepon seluler di sebuah situs penting. Ia beberapa kali dipanggil ke DPRD dan pemerintah setempat terkait peristiwa itu. Pada akhirnya, ia bisa meyakinkan banyak orang agar membatalkan pembangunan menara tersebut.
Anwar beberapa kali pasang badan di hadapan pemilik lahan saat peneliti dan arkeolog tak mendapat akses ke lokasi penelitian. "Saya tak pernah pakai kekerasan. Saya selalu bilang, apa yang dijaga dan semua yang diteliti bukan untuk kepentingan saya pribadi atau para peneliti, melainkan kepentingan bersama untuk anak cucu. Saya yakinkan tinggalan sejarah yang ada di lahan mereka penting untuk ilmu pengetahuan. Alhamdulillah, semua berakhir baik," katanya.
Sejak 1968
Tamat dari Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) di Parepare, ia langsung pulang kampung karena situasi yang tak menentu pasca peristiwa 30 September 1965. Lalu, tahun 1968, ia membantu penelitian Paleolitik oleh arkeolog Robert van Heekeren di Cabbenge. Anwar keluar masuk hutan menemani peneliti itu, tapi belum berpikir bahwa kelak bakal bekerja menjadi jupel. Ketajaman ingatan dan penguasaan hampir setiap jengkal wilayah membuat Anwar seperti peta hidup yang menuntun peneliti pada jejak-jejak purba di Cabbenge. Walau tampak sepele, peran Anwar sebagai penunjuk jalan menjadi sangat berarti bagi para peneliti dan arkeolog.
"Kebanyakan peneliti saat itu berasal dari luar Soppeng dan sebagian orang asing. Saat Heekeren datang, tak ada orang kampung yang mau terlibat dan sekadar menemani. Lalu, saya memberanikan diri. Saat saya temui dan melihat peta lokasi yang ditunjukkan, saya langsung menyatakan bersedia. Lokasi-lokasi yang dicari adalah tempat saya bermain dan mencari mangga saat kecil," katanya. Seusai membantu Heekeren, Anwar terus terlibat dalam penelitian-penelitian selanjutnya yang melibatkan pakar dari berbagai disiplin ilmu, seperti ahli biologi dan geologi. Kelak, hasil penelitian mereka menjadi catatan penting terkuaknya awal peradaban di Soppeng. Penelitian itu juga menemukan sejumlah fosil babi purba, gajah kerdil, kura-kura raksasa, dan sejumlah artefak dan fosil penting lain.
Hal itu membuat Soppeng menjadi kawasan yang nyaris tak pernah sepi dari kegiatan penelitian. Dari semua penelitian itu, boleh dikata, hampir semuanya melibatkan Anwar. Bahkan, ia selalu diajak serta dalam penelitian dan praktik mahasiswa arkeologi.
Berada dalam tim peneliti, Anwar memanfaatkannya untuk menimba ilmu arkeologi. Baginya, penelitian adalah sekolah lapangan yang membuatnya kian memahami sejarah dan arkeologi. Apalagi, sejak tahun 1973, ia kemudian menjadi jupel benda-benda peninggalan bersejarah di Soppeng. Banyak peneliti dan mahasiswa yang akhirnya menjadikan lelaki itu seperti guru, bapak, dan teman diskusi ataupun debat. Komitmen Anwar itu berjalan baik karena dukungan keluarga. Istrinya, Halawiah, sabar mengurus para peneliti yang kerap bermarkas di rumahnya. Dekat dengan para peneliti mendorong Anwar turut membantu penelitian. Ketika mendapati jalan yang sulit di sejumlah situs, Anwar mencari akal. Dia mendekati kelompok-kelompok petani hingga menjadi pengurus Kelompok Tani dan Nelayan Andalan, Soppeng. Di setiap program pembangunan jalan tani, Anwar selalu menyelip sejumlah ruas jalan berdekatan dengan situs.
"Akhirnya banyak jalan sekitar situs yang kini mudah ditempuh, bahkan dengan kendaraan. Ini memudahkan peneliti dan orang-orang yang mau mengunjungi situs. Kalau tidak dengan cara seperti ini, sulit membangun akses ke situs. Tak ada anggaran khusus untuk itu," katanya. Dedikasinya menjaga dan merawat situs tak pernah berhenti meski dia tak menjadi kaya dari pekerjaan itu. Bagi dia, kekayaannya adalah ilmu dan teman-teman yang dia dapatkan dari aktivitas penelitian. Hingga di masa pensiun, Anwar masih menjaga tinggalan sejarah di Soppeng dan tetap mendampingi para peneliti. Tak berlebihan jika dalam Archaeological Partnerships Expose yang digelar Balai Arkeologi Sulsel di Soppeng, akhir September, Anwar diberi penghargaan sebagai tokoh yang berperan penting dalam pelestarian dan memberikan perhatian khusus pada cagar budaya. Penghargaan yang sepadan untuk dedikasinya.

ANWAR AKIB
Lahir: Soppeng, 27 Maret 1948
Istri: Halawiah (Almarhumah)
Anak: Yusraeni dan Hairil
Pendidikan:
SR Salaonro
SMP Negeri 2 Parepare
SMEA Muhammadiyah Parepare

Penghargaan:Tokoh yang memberikan perhatian khusus bagi cagar budaya dari Balai Arkeologi Sulawesi Selatan 2016.

(Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Oktober 2016, di halaman 16 dengan judul
"Merawat Situs, Menjaga Peradaban").

Sumber:
http://cdn.assets.print.kompas.com/baca/sosok/2016/10/13/Merawat-Situs-Menjaga-Peradaban

Sabtu, 01 Oktober 2016

Kreasi Pelajar Soppeng dalam APEX 2016

Balai Arekologi - Balar Sulsel menggelar Pagelaran Kemitraan Arkeologis di lapangan Gasis Watansoppeng, 26-29 September 2016. Selama empat hari empat malam, seluruh rangkaian acara diikuti sekitar 300 siswa-siswi pelajar dan guru sekolah menengah atas dari kabupaten Soppeng, Bone, Bulukumba, Selayar, Masamba, Walenrang, dan Tana Toraja. Dihadiri oleh kepala Puslitnas, perwakilan Balar Maluku, Medan, Jawa Barat, Pemda kabupaten Maros, dan Ikatan Arkeolog Indonesia, acara dibuka oleh wakil Bupati, dan ditutup oleh Bupati Soppeng.
APEX merupakan pengembangan dari even Kemah Arkeologi, yang selama 10 tahun terakhir dilaksanakan oleh Balar Sulsel di 10 kabupaten. Sedikit berbeda, APEX menekankan aspek kemitraan, partisipasi dan output kegiatan kreatif. Salah satunya adalah mendokumentasi dan memproduksi kreativitas pelajar dalam mengapresiasi situs sejarah dan ritus budaya di wilayahnya melalui cipta lagu dan pentas musik. Even ini diikuti 16 dari 21 sekolah menengah atas peserta APEX. Perlombaan ini menghasilkan 3 pementas terbaik dari aspek autentitas dan relevansi tema, kesesuaian lagu dan musik, serta teknik vokal.
Pada umumnya peserta mengemas lagu dan pementasannya secara sungguh-sungguh, pertanda perhatian siswa dan guru sangat antusias. Dari enam belas sekolah peserta lomba, hanya 3 yang kurang relevan dengan tema Peduli Situs Lembah Walanae dan situs lainnya di Sulawesi Selatan. Lirik-lirik lagu dinyanyikan dalam bahasa daerah dan bahasa Indonesia secara grup maupun solo. Genre musik yang diminati adalah balada dan pop - ada sedikit unsur dangdut dan rap - dengan mengandalkan peralatan musik perkusi gitar akustik, ukulele, gendang, biola, dan suling.
Even tahunan Balar Sulsel kali ini terasa ada nilai tambah dengan tumbuhnya kreativitas siswa bersama guru dalam mengapresiasi situs dan ritus budaya daerah. Situs Lembah Walanae dalam nyanyian menjadi kata kunci yang menjelaskan banyak hal tentang peradaban masa lalu dan masa kini masyarakat Soppeng dan sekitarnya. Dalam hal kemampuan, siswa-siswi daerah cukup baik dalam mengemas lagu dan melantunkannya secata grup dan solo. Kesenian, dalam hal ini seni musik terbukti dapat menjadi media kampanye yang efektif dan cocok dengan dunia pop kaum muda. Kreativitas mereka dapat menjadi alternatif dalam pengembangan dan pemanfaatan situs-situs arkeologi di Sulawesi Selatan.
Dari sisi dokumentasi, karya siswa ini akan menjadi satu album lagu yang bertajuk "Safe Walanae", dan dikemas secara audio-visual. Safe Walanae mencakup kampanye untuk konservasi, preservasi, dan revitalisasi kearifan budaya lokal. Sesuatu yang jarang atau mungkin belum dilakukan oleh Balai-balai Arkeologi dan instansi yang terkait dengan perlindungan situs prubakala. Sejauh ini hanya dalam bentuk buku dan pameran foto sebagai media kampanyenya. Melalui media audio-visual, kreativitas siswa bisa diakses oleh semua kalangan melalui internet agar pesan-pesan dalam lagu dapat diapresiasi secara utuh. .
Berikut ini adalah enam lirik lagu yang dinyanyikan oleh siswa-siswa dari enam sekolah menengah atas di kabupaten Soppeng. Tiga di antaranya adalah pemenang lomba.

1.  Penghuni Alam (SMAN Liliriaja)

2. Walennae Salo Lebbi (SMAN 1 Watansoppeng)
3. DINDAE (SMAN Marioriwawo)
4. Walennae ri Cabbenge (SMAN Marioriawa)
5. Alebbirenna Walennae (MA Pergis Ganra)
6. Rupa-rupanna Soppeng (SMKN 2 Watansoppeng)

   *by dg situju

Senin, 08 Agustus 2016

Kampanye Penyelamatan Situs Melalui Pentas Musik

Kondisi aktual yang dihadapi Balai Arkeologi dewasa ini adalah bagaimana mewujudkan hasil-hasil penelitian dan pengembangan sumberdaya arkeologi di daerah menjadi berkualitas, berdayasaing, berdayaguna, dan berorientasi pada pembangunan karakter bangsa. Visi ini yang mendorong Balai Arkeologi mengembangkan kemitraan dan prioritas kegiatan yang apresiatif, sambil berperan sebagai katalisator dan fasilitator dalam pemanfaatan situs secara berkelanjutan.
Ada tiga isu atau agenda strategis yang dianggap relevan dengan usaha mewujudkan visi tersebut, yaitu; (1) Penguatan identitas budaya lokal melalui kegiatan pendokumentasian, pengkajian dan publikasi hasil-hasil riset; (2) Peningkatan apresiasi publik terhadap kawasan situs, dalam hal ini situs purba Lembah Walanae sebagai identitas budaya lokal sekaligus warisan peradaban nusantara; (3) Peningkatan partisipasi masyarakat, khususnya guru dan pelajar sekolah dalam kegiatan ekspose maupun kampanye pengembangan dan pemanfaatan kawasan situs Walanae, dan situs-situs lainnya di Sulawesi Selatan.