Minggu, 17 April 2016

MENGGALI POTENSI KAWASAN SITUS WALANAE


Tim BPSMP Sangiran Melakukan Kajian Potensi Cagar Budaya Situs Paleolitik Lembah Walanae
di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan

Situs Paleolitik Lembah Walanae terletak disepanjang aliran Sungai Walanae yang berhulu di daerah Bone barat mengalir menuju ke utara di daerah Soppeng dan Wajo yang bermuara di pantai timur Sulawesi Selatan di Teluk Bone. Lokasi ini terletak sekitar 180 km di sebelah tenggara Kota Makassar, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor melalui jalur darat.
Pada beberapa lokasi di lembah Walanae mengandung tinggalan Arkeologi dan Paleontropologi yang terdapat pada lapisan-lapisan tanah purba. Temuan arkeologi yang telah ditemukan di daerah ini adalah alat-alat batu yang terdiri dari kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam, pahat genggam, berbagai jenis alat serpih. Temuan paleontropogi berupa fosil berbagai jenis binatang vertebrata darat, diantara yang paling terkenal adalah gajah kerdil purba endemik Sulawesi (Stegodon sompoensis/Stegodon celebensis) dan babi rusa endemic (Celebochoerus heekereni). Umur lapisan purba diketahui berusia miosen hingga plestosen (25 juta hingga 100.000 tahun lalu).
Lokasi-lokasi pengandung temuan alat batu dan fosil binatang purba di Situs Lembah Walanae adalah Jampu, Talepu, Lenrang, Berru/Calio, Marale, Paroto, Lakibong, Kecce, Lonrong, lakibong di Kabupaten Soppeng, Sompe di Kabupaten Wajo, dan Tanrung di Kabupaten Bone.
Lokasi ini telah diteliti sejak 1947 dan berlangsung hingga sekarang, sejak kedatangan H.R. van Heekeren (seorang peneliti berkebangsaan Belanda). Dilanjutkan oleh D. A. Hoijer, oleh G. J. Barstra, kemudian peneliti-peneliti pionir Indonesia seperti R.P Soejono dari Arkenas dan S. Sartono dari Pusat Pengembangan Geologi Bandung. Sekarang masih diteliti dan dikaji secara intensif oleh Puslit Arkenas beserta Balai Arkeologi Makassar, Pusat Pengembangan Geologi Bandung, dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan.
Informasi dan pengetahuan yang didapatkkan dari Situs Lembah Walanae telah mengambil tempat pada babakan sejarah kebudayaan di kawasan Nusantara. Situs Lembah Walanae adalah satu-satunya lokasi yang mengandung temuan berusia Plestosen dan diantara temuan-temuan tersebut terdapat jenis binatang yang tidak ditemukan di tempat lain (endemic) beserta peralatan manusia purba yang terbuat dari batu yang juga memiliki ciri yang juga khas. Namun demikian masih terdapat beberapa persoalan yang menjadi pertanyaan. Salah satu persoalan tersebut adalah belum ditemukannya sisa fosil manusia purba dan rencana pengembangan kedepan.
Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran melakukan kegiatan kajian di Situs Lembah Walanae pada tanggal 7 – 18 April 2016. Dalam pelaksanaan kegiatan ini, kami bekerjasama dengan tim kajian BPCB Sulawesi Selatan. Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah survei lapangan dan perencanaan penataan display Museum Calio serta perencanaan konservasi koleksi fosil di Museum Calio.  Pada kesempatan kali ini, BPCB Sulawesi Selatan akan mengadakan FGD (Focus Group Discussion) terkait pengembangan Situs Paleolitik Lembah Walanae pada tanggal 15 April 2016 yang bertempat di Gedung Pertemuan Hotel Grand Saota Soppeng. FGD ini melibatkan BPSMP Sangiran, Balar Makassar, Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin Makassar, Pemda Soppeng, dan tokoh masyarakat di Soppeng.
Situs Paleolitik Lembah Walanae memiliki keunikan yaitu terdapat perbedaan karakter jenis temuan permukaan pada beberapa lokasi, misalnya satu lokasi hanya terdapat temuan alat-alat batu massif, lokasi lain cenderung hanya ditemukan alat serpih, serta sebuah lokasi yang hanya ditemukan fosil, atau gabungan antara fosil dan artefak.
Sementara itu Museum Calio yang berlokasi di dalam area situs yang merupakan tempat penyimpanan dan juga display temuan memperlihatkan kondisi yang kurang layak. Informasi yang didapatkan di Museum Calio hanya didapatkan dari poster yang dibuat sejak tahun 1980an, sementara itu koleksi yang ditampilkan sama sekali tidak diberi informasi (label) sehingga pengunjung hanya mendapatkan informasi sekedarnya dari juru pelihara BPCB Sulawesi Selatan yang bertugas disana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar